Church and Human Rights Persecution in Indonesia
  

FICA-Net

   Search this site:   [What's New]

Perang Waai (in Indonesian)
<< Back .. (Up) Next >>

AMBON: Perang Waai dan Demo di Ambon

Semmy Littik
Wakil Direktur Eksekutif
Yayasan Sala Waku Maluku

I. Perang Waai

Perang antar penduduk Kristen dan Islam di Ambon masih terus berlangsung. Tanggal 23 Februari 1999 (bersamaan dengan pecahnya perang di Batu Merah Ambon), telah terjadi penyerangan terhadap Desa Waai (Kristen) oleh desa-desa tetangganya yang berpenduduk mayoritas Islam dari Desa Tulehu dan Desa Liang. Menurut kesaksian bapak Elly Tubalawoni (68 tahun), penduduk dari desa Waai, penyerangan dari Desa Tulehu dari arah barat desa Waai dimulai pukul 07:00 WIT.

Ketika penduduk Waai sedang berusaha mengusir penyerang dari Tulehu, pada jam 10:00 WIT terjadi serangan dari desa Liang dari arah timur desa Waai. Kedua desa penyerang dibantu oleh desa-desa Islam lainnya seperti desa Morela dan Mamala dari semenanjung Leihitu. Perang berlangsung hingga malam hari dan dilanjutkan pada keesokan harinya tanggal 24 Feb,1999. Penyerangan tersebut disertai dengan pembakaran rumah penduduk, rumah ibadah, dan pembunuhan.

Berikut adalah data korban perang Waai 1999 menurut catatan dari Yayasan Waiselaka yang ditandatangani oleh Ir. Eddy Ch. Papilaya, M.Si. sebagai Direktur Yayasan Waiselaka :

REKAPITULASI KORBAN PERANG WAAI
KECAMATAN SALAHUTU, KAB. MALUKU TENGAH,PROPINSI MALUKU (23 - 24 Februari 1999)

(Data hanya dari desa Waai. Data korban dari desa Tulehu, Liang dan desa-desa yang membantu kedua desa tersebut seperti Morela dan Mamala tidak dapat diperoleh hingga laporan ini ditulis).

Luka potong 9 orang (meninggal 1 orang, yaitu Hendra Maspaitella, anggota Yonif 733 Waiheru yang sedang berlibur di Waai)
Luka tembak 3 orang (seorang di antaranya, yaitu Sdr. Joseph Manuputty telah meninggal dunia tanggal 26 Feb. 1999 di RSU Ambon)
Luka panah 20 orang
Luka lemparan batu 2 orang
Hilang 1 orang (Daniel Kalay diduga sudah meninggal akibat bacokan danmayatnya dibawa ke Tulehu oleh para penyerang)

Kerugian Material :

  1. Rumah hangus terbakar : 28 unit
  2. Bangunan Gereja Imanuel terbakar
  3. Gedung Serba Guna terbakar : 1 unit
  4. Fasilitas rekreasi pantai Tanese terbakar (rumah santai 2 unit,rumah kios 1 unit, penginapan 8 kamar, kafetaria unit) dan semua taman dirusak.
  5. Kapal ikan purse seine
  6. Perusahaan Pantai Hoop
  7. Tempat wisata Warmata.

Jumlah pengungsi : 38 KK (150 jiwa) sementara ditampung di gedung Gereja Damai di Waai.

Upaya membantu para pengungsi sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Aparat keamanan juga sudah ditambah kekuatannya untuk mengamankan desa Waai.

II. Demonstrasi Umat Kristen di Ambon

Pada tanggal 26 Feb 1999 telah terjadi demonstrasi umat Kristen di Ambon di Markas KOREM 174 Pattimura dan Markas POLDA Maluku. Materi pokok yang disampaikan adalah menyangkut tindakan aparat keamanan (pasukan KOSTRAD dari KODAM VII Wirabuana Ujungpandang) yang secara brutal membantai umat Kristen di lokasi gedung Gereja Protestan Maluku Bethabara, Batu Merah Dalam, Kelurahan Amatelu, Kecamatan Sirimau, Kotamadya AMbon, Maluku.

Demo yang dimulai jam 08:00 WIT dari gereja Maranatha Ambon diikuti oleh massa yang mayoritas berasal dari jemaat gereja Bethabara dipimpin oleh tokoh-tokoh umat Kristen di Ambon. Massa yang berjumlah sekitar 400 orang tiba di Makorem 174 Pattimura dan seluruhnya diterima oleh Danrem 174 Pattimura Kol. Karel Ralahalu. Dialog antara Danrem dan massa berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Berbicara dalam dialog ini antara lain Drs. David Titawana (warga jemaat Bethabara), Drs. Fredrik Matrutty (tokoh umat Kristen) dan Drs. DOnald Petta (tokoh pemuda Kristen).

Setelah selesai dialog di Makorem yang ditutup dengan doa oleh pendeta M. M.Siahaya (Sekum Sinode GPM), massa yang sudah bertambah menjadi 1000-an orang menuju ke Mapolda Maluku. Di Mapolda, utusan para demonstran diterima oleh Kapolda untuk berdialog di halaman Mapolda. Kapolda Maluku yang tadinya enggan berdialog di halaman, akhirnya menerima tuntutan demonstran agar ybs. ke luar dari gedung Mapolda. Pembicara dalam dialog ini selain ketiga orang yang disebut di atas, juga terdapat Hengky Manuputty, SH (tokoh pemuda Kristen).

Materi pembicaraan para demonstran ketika diterima oleh Danrem dan Kapolda di antaranya adalah :

  1. Menuntut Danrem untuk mengeluarkan aparat militer beragama Islam dari Asrama militer Batumerah sebab mereka ikut terlibat sebagai provokator dan penyerang umat Kristen di gedung Gereja Bethabara.
  2. Menghimbau Danrem agar segera menarik kesatuan Kostrad dari Ujungpandang dari Kotamadya Ambon sebab kesatuan ini dinilai telah memakai senjata dan amunisi yang dibeli dengan uang rakyat untuk menindas dan membantai rakyat. Pasukan ini telah membantai jemaat Bethabara, menembaki gedung gereja Bethabara, menembak ke arah para pengungsi (termasuk ibu-ibu dan anak-anak) dan orang-orang yang akan mengevakuasi korban penembakan dan menghalangi tugas dari anggota Palang Merah Indonesia.
  3. Menghimbau agar pasukan Kostrad tersebut diganti dengan pasukan dari Kodam VIII Trikora Irian Jaya.
  4. Menuntut pertanggungjawaban Kapolda Maluku sebagai pengendali operasi keamanan di Maluku atas terjadinya kesalahan prosedur oleh aparat keamanan, keberpihakan aparat terhadap umat masing-masing agama (air cari air, minyak cari minyak), dan kesengajaan Kapolda membiarkan kesalahan prosedur yang terjadi. Aparat keamanan dinilai telah sengaja membiarkan pembakaran gedung gereja (misalnya, di desa Kariu).
  5. Menghimbau dengan tegas agar Danrem memerintahkan Komandan Den POM 174 Pattimura untuk meralat ucapannya di berita daerah TVRI Ambon yang mengatakan bahwa penembakan terhadap warga sampai dalam gedung Gereja (Bethabara) tidak pernah ada, yang ada adalah peluru nyasar pada malam hari. Dalam kenyataan, penembakan terhadap jemaat dan gedung Gereja Bethabara terjadi pada jam 08:00 WIT saat pendeta dan jemaat sedang berdoa pagi.

SIKAP DANREM : menerima semua usul dan saran dan akan meneliti saat itu juga langsung ke lapangan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berkompeten.

SIKAP KAPOLDA : menjanjikan untuk segera mengkoordinir segala peristiwa di lapangan dan kemudian melaporkan kondisi sebenarnya kepada atasannya.

Sikap Kapolda disambut dengan keributan dari massa karena merasa pernyataan para utusan mereka tidak ditanggapi dengan baik oleh Kapolda.

Demikian ringkasan berita perang Waai dan demo umat Kristen di Ambon.

Semmy Littik
Wakil Direktur Eksekutif
Yayasan Sala Waku Maluku

 

   Search this site:   [What's New]

 
This Human Rights section ( http://www.fica.org/hr ) is still under active construction.
Information is still being added everyday. Please come back again to see more updated content.
Prepared by Fica-Net, http://www.fica.org, Last updated: 04/09/99
Please address any comment to webmaster@fica.org

 

Total pages viewed from this section: